Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan langkah pemerintah untuk mengalihkan sumber impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) ke sejumlah negara di kawasan Timur Tengah. Langkah strategis ini diambil sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional dan memastikan harga gas di tingkat masyarakat tidak mengalami kenaikan di tengah fluktuasi pasar global.

Pengalihan ini merupakan respons pemerintah terhadap dinamika harga energi dunia yang tidak menentu, yang berpotensi membebani APBN jika tidak segera diantisipasi dengan mencari sumber pasokan yang lebih stabil dan kompetitif.

Alasan Pemilihan Timur Tengah

Bahlil menjelaskan bahwa negara-negara di Timur Tengah, seperti Qatar dan Uni Emirat Arab, menawarkan stabilitas pasokan jangka panjang dengan skema harga yang lebih bersahabat bagi Indonesia. Selain itu, hubungan diplomatik yang erat antara Indonesia dengan negara-negara teluk menjadi modal kuat untuk melakukan negosiasi Business to Business (B2B) maupun Government to Government (G2G).

"Kita sedang melakukan renegosiasi dan pengalihan sumber impor. Fokus kita adalah mencari harga yang paling kompetitif. Timur Tengah menjadi salah satu prioritas agar HPP (Harga Pokok Penjualan) kita tetap terjaga, sehingga harga ke masyarakat tidak perlu naik," ujar Bahlil dalam keterangannya di Jakarta (7/4/2026).

Menekan Beban Subsidi

Saat ini, ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG masih sangat tinggi, mencapai lebih dari 70% dari total kebutuhan nasional. Dengan mendapatkan sumber pasokan yang lebih murah, pemerintah berharap dapat menekan nilai subsidi energi yang harus dibayarkan negara.

Bahlil menambahkan bahwa pengalihan ini bukan berarti memutus hubungan dengan mitra lama, melainkan bentuk diversifikasi agar Indonesia tidak terjebak pada satu titik pasokan yang harganya mungkin sedang melonjak akibat kendala logistik atau kebijakan politik negara tertentu.

Target Implementasi Cepat

Pemerintah menargetkan kontrak-kontrak baru dengan pemasok di Timur Tengah dapat segera rampung pada kuartal kedua tahun ini. Seiring dengan itu, infrastruktur penerimaan gas di dalam negeri juga terus diperbaiki untuk menyambut kedatangan pasokan dari jalur baru tersebut.

"Tujuannya satu: rakyat jangan sampai terbebani. Kita kelola hulunya, kita cari sumber termurah, supaya di hilir (masyarakat) harganya tetap terjangkau," tegas mantan Kepala Bahlil.